Buffer
Indonesia Hijau

Pengelolaan Hutan Desa di Luar Jawa dengan Pola Agroforestri

PENGELOLAAN  HUTAN DESA DI LUAR JAWA

DENGAN POLA AGROFORESTRY

Hutan Desa adalah Hutan yang pengelolaannya dilaksanakan oleh masyarakat ataupun Kelompok masyarakat pada Hutan negara, baik berupa Hutan Produksi atau Hutan Lindung yang dikuasai oleh negara. Hutan Desa diharapkan ke depan tersusun dari satuan ekosistem kehidupan mulai dari Tanaman keras, tempat perlindungan dan berkembangnya satwa, tanaman buah-buahan endemik/khas daerah,Tempat rekreasi alam, dan tanaman musiman.

Hutan desa adalah Salah satu solusi untuk mengurangi tekanan terhadap eksploitasi hutan, Menciptakan Hutan Produksi berkesinambungan, meningkatkan kesejahteraan Masyarakat di sekitar kawasan Hutan, penciptaan lapangan kerja, perbaikan ekosistem, pelestarian plasma nutfah dan mengatasi masalah kebutuhan lahan bagi Masyarakat. Untuk mencapai tujuan terbut, maka salah satu Pola pengelolaan Hutan Desa adalah dengan menerapkan Pola AGROFORESTRY.

Agroforestry merupakan sistem pemanfaatan lahan secara optimal berazaskan kelestarian lingkungan dengan mengusahakan atau mengkombinasikan tanaman kehutanan dan pertanian (perkebunan, peternakan, Hortikultura) sehingga dapat meningkatkan perekonomian petani di pedesaan.

CONTOH PENERAPAN  POLA AGROFORESTRY (DI WONOGIRI JAWA TENGAH)

Tidak asing lagi bagi kita apabila mendengar Wonogiri, tersirat di benak kita wonogiri adalah daerah tandus, tertinggal, makanan utamanya Thiwul (tepung Singkong Kering). Itu dulu..Sekarang ini, diluar dugaan kita…Mengapa? Marilah kita berkunjung ke Wonogiri. Apa kesan anda sepanjang perjalanan ? Selepas meninggalkan kota Wonogiri, kearah manapun tujuan kita, sepanjang mata memandang akan melihat hamparan pegunungan dengan HUTAN RAKYAT milik petani pribadi yang tertata rapi. Dan jangan salah sangka, itu hutan Negara. Hampir 90% dari luas wilayah hutan di wonogiri adalah HUTAN RAKYAT. Dan Kesejukan udara sangat terasa, kerukunan, keramahan dan ketentraman masyarakat tersuguhkan. Lalu apa Istimewanya dengan Wonogiri ?

Wonogiri adalah Daerah Selatan Jawa Tengah, yang merupakan kawasan Pegunungan kapur, mayoritas lahannya BATU BERTANAH…bukan lagi tanah berbatu. Produk utama andalan masyarakat Wonogiri adalah Gaplek. Yang mana masa panen ketela pohon 1 kali dalam 1 tahun, dengan hasil 2 Ton/Ha, dengan harga Gaplek per Kg Rp. 1.000,- Sehingga Pendapatan Rp.2.000.000/Ha/Tahun.

Di benak kita pasti akan tersirat Pertanyaan..

Bagaimana mencukupi Beaya Hidup saat ini yang dalam 1 tahun hanya mendapatkan Hasil 2 Juta?Lalu bagaimana yang tidak Punya Lahan 1 Ha? Inilah yang membuat saya untuk belajar membaur dengan managemen Petani Wonogiri. Dan ternyata Masyarakat Wonogiri bisa Hidup Tercukupi, Memiliki Rumah yang Bagus, Anak-anak mereka bisa Kuliah. Lalu Dari mana Pendapatannya ?

Inilah HEBATNYA PETANI WONOGIRI Khususnya, dan Gunung Kidul pada Umumnya.Dan jawabannya adalah dengan menerapkan Pola AGROFORESTRY. Hebat Bukan?Apa Buktinya?

Mari kita cermati hal-hal sebagai berikut :

  1. Mata pencaharian Utama Masyarakat Wonogiri adalah Petani tadah Hujan, dengan segala banyak kekurangan, disamping tak ada irigasi, lahan mayoritas hamparan perbukitan kapur nan Tandus. Kunci Utama Perekonomian petani Wonogiri adalah KESADARAN YANG TINGGI UNTUK MENANAM TANAMAN HUTAN (JATI, MAHONI, AKASIA, SENGON, DLL), SECARA SWAKARSA MANDIRI Tanpa ada yang Menyuruhpun, Tanpa ada bantuan beaya dari Pihak manapun, Masyarakat Wonogiri sudah turun-temurun terdidik SEBAGAI PETANI HUTAN, yang dikombinasikan dengan Tanaman Perkebunan, Tanaman Musiman, Tanaman Hijauan makanan ternak, dan sayur-sayuran. Bagaimana caranya? Dengan keterbatasan Luas lahan (sempit dan tandus), leluhur kita di Wonogiri ternyata lebih Pintar, hingga munculah kreativitas, ide dan didukung kemauan yang tinggi untuk memberdayakan Lahan semaksimal mungkin, berdaya guna sepanjang musim, memberikan aneka produksi, maka diterapkanlah POLA AGROFORESTRY, yaitu perpaduan antara Tanaman Kehutanan, Taman Pertanian, Tanaman Perkebunan dan Tanaman Hijauan makanan Ternak dicampur dalam 1 lahan. Inilah sandaran Utama Untuk Mencukupi Kebutuhan Hidup terutama yang memerlukan Beaya Tinggi. Kenapa Demikian? Tidaklah Mustahil, sebagai contoh dengan menjual 1 batang kayu Jati diameter 30 Cm up saja, kini harganya mencapai Rp.4.000.000,- (Empat Juta Rupiah)per M3, bahkan ada yang 1 pohon Jati laku Rp 16.000.000,-.Berikut Sistem Penanaman dilakukan dengan Teknik agroforestry sebagai berikut :

Mengingat lahan perbukitan, maka tiap lahan dibuat anggelan (pematang) sekaligus berfungsi sebagai Teras yang dikenal dengan Teras Bangku, Teras Siring dan teras Guludan. Fungsi Teras sebagai Penahan Erosi dan Penahan Air.

Di Teras/Pematang, ditanam Tanaman Hutan Jenis Pohon Produktip (Jati, Mahoni, Sengon, Mahoni, Jabon, dll), dan disela-sela tanaman hutan ditanami Hijauan Makan Ternak (Rumput Gajah, Rumput Cetaria dan Rumput lain). Juga di Pematang batas lahan, tepi sungai dan tepi jurang. Diharapkan ke depan, mempunyai fungsi Ganda, yaitu sebagai investasi, sebagai penahan tanah longsor, dan penyimpan air tanah. Jadi Aspek kekalan Usaha, aspek kelestarian Lingkungan dan aspek ekonomi tercapai.

Pada Lahan lahan Paling rendah Saat AWAL datang musim Hujan ditanami Padi Lahan kering (GOGO), secara bersamaan DITANAM KETELA POHON, setelah panen Padi, ditanami tanaman Polowijo, sehingga tiba saat musim hujan habis tinggal Ketela pohon yang tersisa di Lahan.

Dan disaat Musim kemarau panjang (jawa : Paceklik) bulan September-Oktober Justru petani Wonogiri PANEN KETELA POHON.

Pada Lahan yang agak Miring, miring, sampai terjal, saat awal musim Hujan Ditanami Jagung, secara bersamaan juga ditanami Ketela Pohon, Musim tanam kedua ditanam kembali Tanaman Musiman yang perlu banyak Air seperti Kedelai, Kacang Tanah, Kacang hijau, dan Tanaman Sayuran, dan saat habis panen ke-2 tiba saatnya datang musim kemarau, sisa tanaman ketela pohon yang tersisa hingga akir masa Panen.

Pada Lahan Berbatu, Secara teliti dengan rajin, dibuatlah lubang2 tanam dengan menimbun daun, seresah dicampur pupuk kandang dan sedikit tanah, sebagai tempat Untuk menanam tanaman Hutan. Dipilh Jenis Tanaman yang Gampang tumbuh, Tahan kering dan mempunyai nilai Ekonomi (Contoh : Akasia). Penanaman Rumput Gajah (Hijauan Makanan Ternak) di pematang juga mempunyai andil besar dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Kenapa Demikian? Karena Disamping bersandar pada sektor pertanian, Peternakan sapi, dan kambing juga Andalan investasi Masyarakat Wonogiri. Penanaman Rumput di Pematang/teras untuk pakan ternak, sementara pupuk dibawa ke lahan untuk mensuplay bahan organik. Ada Fenomena yang menarik lagi dan SANGAT CERDAS. Teknis beternak sapi di Wonogiri, sengaja tidak setiap hari sapi dikeluarkan dari kandang, tidak setiap hari kotoran diambil, tapi antara urine sapi, sersah/limbah sisa pakan dan kotoran dibiarkan bercampur ditempat selama 1 tahun. Dan tiba saatnya musim Hujan, campuran kotoran yang sudah menjadi kompos diambil, dibawa habis ke lahan sebagai Unsur hara dan bahan organik Tambahan. Hebat Bukan? Itulah kenapa, walaupun di Wonogiri Tanahnya berbatu, tandus, tetapi begitu musim hujan tiba Wonogiri terlihat HIJAU ROYO-ROYO, dan kini Wonogiri tidak saja menjadi SENTRA GAPLEK…TETAPI WONOGIRI SEBAGAI SENTRA KEDELAI, SENTRA JAGUNG , SENTRA KACANG TANAH dan LEBIH HEBATNYA DI SEKTOR KEHUTANAN SEKARANG MENJADI SENTRA KAYU JATI RAKYAT, PEMASOK UTAMA INDUSTRI FURNITURE DI JEPARA DENGAN STANDART EKSPORT.

Dari berbagai uraian diatas, tidaklah Mustahil kini Masyarakat Wonogiri dan Gunung Kidul hidup tentram, kesejahteraan tercapai , Tingkat Pendidikan Generasi Muda mayoritas SMA dan bahkan tak sedikit yang menjadi Sarjana, dengan berbagai Profesi, dari Pengusaha dan Wiraswastawan Sukses Bidang Transportasi dengan ratusan armada Bus AKAP yang terkenal,Pengusha Kuliner sukses dengan Bakso Wonogirinya, bahkan tak sedikit menduduki berbagai jabatan Penting di Instansi pemerintah atau Swasta, dari Pejabat Tinggi hingga Pejabat Daerah.

Dan Tibalah saatnya, kini kita sebarkan, kita bangun untuk masyarakat di luar jawa, yang dahulu bergantung kepada Alam, sedikit demi sedikit diperbaharui (bukan dipaksa atau dirubah), karena tidak semudah membalik telapak tangan. Hal ini tentunya akan berhasil bilamana Instansi terkait, dalam hal ini Dinas Kehutanan di Daerah tidak mau lelah melaksanakan Sosialisasi, bila perlu Pembinaan kelompok tani secara kontinyu dan berkelanjutan, dan secara berlahan diberikan pelatihan dan studi banding ke Pulau Jawa. Mengingat, di Luar Jawa (Kalimantan kususnya) sangat sedikit lapangan kerja, sementara pertumbuhan penduduk usia kerja semakin meningkat. Hutan yang dulu padat, sebagai tumpuhan hidup sudah hancur, Sementara Alam tak mampu lagi memberikan hasil. Ditambah kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Bagaimana Nasib Masyarakat kita ke depan?

Melalui Program HUTAN DESA yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah, adalah merupakan pilihan jitu untuk berbagai manfaat antara lain :

  1. Menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk BERSWAKARSA MANDIRI dalam usaha Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan kehutanan.
  2. Menciptakan Lapangan Kerja hingga ke pelosok desa
  3. Meningkatkan Pendapatan, Ekonomi dan devisa Negara
  4. Melestarikan Lingkungan, dalam arti luas, termasuk didalamnya mencegah erosi/banjir, meningkatkan resapan air tanah, memperbaiki ekosistem, melestarikan fatwa nutfah, dan lain-lain,
  5. Serta Sebagai wahana pendidikan dan pembelajaran anak cucu akan pentingnya melestarikan hutan .

Demikian Ulasan singkat ini sekedar wacana, mudah-mudahan menjadikan masukan, dan barangkali ada manfaatnya, minimal membuka wawasan kita akan pentingnya HUTAN untuk kesejahteraan manusia. Amin.

Gambar : Pola Agroforestry

Tepi Sungai ditanami rumput gajah sebagai penguat teras, disusul Tanaman Jati di Pematang/teras, dan bagian sisi dalamnya adalah lahan untuk tanaman pertanian

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.